Empowering our youths with Information Literacy skills in the Gen-AI era

Penulis/Pemilik:

Nadia Ramli - Senior Librarian

Diunggah oleh:

Aditya Andriansyah Permanajati

Jenis Materi:

Ppt

Tanggal Unggah:

25 Sep 2025

Dilihat:

2 kali

Abstrak:

"Empowering our youths with Information Literacy skills in the Gen-AI era" yang disampaikan oleh Nadia Ramli, Senior Librarian, pada Kongres XVI Ikatan Pustakawan Indonesia, Seminar Ilmiah Nasional, 18 September 2025.

Berikut adalah ringkasan dari isi presentasi tersebut:

1. Tantangan di Era Generative AI (Gen AI)

Sulit Membedakan Asli dan Palsu: Presentasi dimulai dengan menunjukkan contoh gambar dan video yang sulit dibedakan antara asli dan palsu (deepfake) yang dihasilkan oleh AI. Sebuah studi dari PC World (29 Juli 2025) menunjukkan bahwa manusia sangat buruk dalam mendeteksi gambar AI palsu.

Kaum Muda Rentan dan Tidak Siap: Berita utama terbaru (NBC 26 Agustus 2025, UNICEF 11 Februari 2025, Bernama 15 Agustus 2025) menunjukkan kerentanan kaum muda di era AI. Mereka stres karena banjir misinformasi di media sosial, bereksperimen dengan Gen AI yang terkadang merusak harga diri, menjadi target penipuan baru yang didukung AI, dan dalam satu kasus tragis, sebuah chatbot diduga berperan dalam bunuh diri seorang remaja.

Peningkatan Penggunaan dan Kekhawatiran di Singapura: Di Singapura, kaum muda menggunakan AI lebih dari sebelumnya untuk pekerjaan rumah sekolah dan kehidupan sehari-hari. Namun, ada peningkatan risiko seperti siswa yang dihukum karena penyalahgunaan AI, penipuan dan deepfake yang menargetkan remaja, dan kecemasan tentang masa depan pekerjaan di era AI. Survei tahun 2024 menunjukkan 4 dari 5 siswa menginginkan kelas literasi media dan informasi, menandakan kebutuhan akan bimbingan.

2. Peluang dan Risiko AI

• Peluang: Kreativitas, dukungan pembelajaran, kolaborasi, dan keterampilan masa depan.
• Risiko: Misinformasi, bias, plagiarisme, dampak pada pemikiran kritis, serta dampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan.

3. Membangun Singapura yang Berinformasi


Singapura memiliki beberapa inisiatif untuk membangun keterampilan digital (termasuk literasi informasi) bagi warganya:
• Sekolah (MOE): Program Literasi Digital Nasional menggunakan kerangka "Find, Think, Apply, Create" untuk memperkuat literasi digital dan keterampilan teknologi siswa.
• Digital Skills for Life (DSL) oleh IMDA: Sebuah upaya nasional untuk membekali semua warga Singapura dengan pengetahuan dan keterampilan digital penting untuk tugas online sehari-hari, navigasi ruang digital, dan perlindungan diri dari risiko online.
• Model AI Governance Framework untuk Generative AI: Kerangka kerja ini menetapkan harapan bagi pengembang dan penyebar Gen AI, membentuk sistem dan perlindungan di sekolah, tempat kerja, dan platform digital, memastikan adopsi AI yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

4. Peran NLB dengan S.U.R.E.

• S.U.R.E. (Source, Understand, Research, Evaluate): Diluncurkan pada tahun 2013, S.U.R.E. adalah inisiatif dari National Library Board (NLB) untuk membekali warga Singapura dengan keterampilan literasi informasi (IL) yang penting. Ini telah berkembang menjadi S.U.R.E. 2.0 untuk melayani berbagai kebutuhan komunitas dan menjangkau audiens yang lebih luas. Ini adalah bagian dari inisiatif Informed Citizenry di bawah LAB25 (Libraries and Archives Blueprint 2025) NLB.
• Strategi Penjangkauan S.U.R.E.:
• Konten & Sumber Daya: Kursus untuk sekolah (Level Dasar, Menengah, Lanjutan) yang mencakup Literasi Informasi, Kesejahteraan Digital, dan Keamanan Digital, serta telah memasukkan aspek Gen AI dan Deepfake. Sumber daya ini mencakup video, slide, infografis, dan artikel. Contoh video "Navigating Generative AI (Basic)" ditujukan untuk siswa SD kelas 4-6.
• Keterlibatan melalui Pembelajaran atau Ceramah: Banyak permintaan dari sekolah untuk lokakarya/ceramah terkait Gen AI, literasi informasi, dan kesejahteraan digital. Sejak 2023, lokakarya Gen AI mendominasi permintaan sekolah.
• Kemitraan:
• Kompetisi Sekolah: Seperti "Prove It! Contest" (yang mengajarkan keterampilan literasi berita dan informasi, di mana siswa menyelidiki apakah Gen AI adalah alat yang bermanfaat) dan "Historical Scene Investigation (HSI) Challenge".
• Duta Siswa: Melatih pemimpin siswa dari ITE College West untuk menjadi duta S.U.R.E. Mereka kemudian mengadakan lokakarya dengan para lansia di komunitas mereka, memperluas jangkauan S.U.R.E. lintas generasi.
• S.U.R.E. di TikTok: NLB menggunakan TikTok untuk menjangkau audiens yang lebih muda dengan seri video pendek tentang "Memahami Gen AI" dan "Mendeteksi Deepfakes". Konten ini disesuaikan dengan format video pendek dan nada yang relevan untuk audiens muda, mengarahkan mereka ke situs web S.U.R.E. untuk informasi lebih lanjut.

5. Arti Literasi Informasi di Era AI

• AI Membentuk Kembali Informasi: AI tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghasilkan dan menyaring apa yang kita lihat.
• Keterlibatan Kritis: Bukan hanya tentang menemukan sumber yang dapat diandalkan, tetapi juga tentang siapa yang membangun sistem AI, bagaimana cara kerjanya, dan bias apa yang dibawanya.
• Literasi yang Terhubung: Literasi informasi di era AI sangat tumpang tindih dengan literasi media (memahami manipulasi dan deepfake) dan literasi digital (kemampuan teknis).
• Untuk Semua Orang: Ini adalah keterampilan yang dibutuhkan setiap warga negara di dunia yang digerakkan oleh AI.

6. Perpustakaan: Memberdayakan Kaum Muda di Era AI

• Strategi Multi-level: Melibatkan sekolah, perpustakaan, keluarga, organisasi, masyarakat sipil, dan kerangka kerja nasional.
• Menemui Kaum Muda di Mana Mereka Berada: Sekolah, TikTok, atau platform media sosial lainnya.
• Konten Berukuran Kecil: Video, infografis.
• Kompetisi Sekolah: Memberikan kepemilikan dalam pembelajaran, menjadikan kaum muda sebagai duta literasi informasi.

Presentasi ini menekankan bahwa pemberdayaan kaum muda di era AI bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang melibatkan mereka dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka, mengubah mereka dari konsumen pasif konten AI menjadi pemikir kritis, pencipta yang bertanggung jawab, dan advokat literasi informasi di komunitas mereka sendiri.

Buka Materi